Beberapa hari menanti pergantian tahun, terasa semilir angin dingin diiringi
gemuruh petir tanda setujunya antara alam dan aturan manusia mengenai jumlah hitungan
hari dalam satu tahun akan segera diakhiri.
Kicauan burung dan nyanyian orchestra alam di tengah padang hijaunya
ladang sawah membangunkan rasa kegairahan menanti pergantin tahun. Suara
gemricik air mengalir dari satu kubangan menuju kubangan yang lain terasa
menambah khusuknya hati selagi masih penat karena rutinitas harian, matahari
yang senantiasa datang dengan membawa semangat seperti sinarnya yang sangat
terik. Di sore hari ini, seperti biasa, memandang langit yang mempertontonkan
pertujukan awan hitam pekat seolah seperti memasuki lorong waktu jika kita
melihatnya.
Tak jauh dari padang kehijauan, tampak sesekali orang berkeliing hilir
mudik dari arah satu ke lainnya, mereka yaitu orang-orang yang tinggal di desa
tersebut, sambil sesekali menyapa dengan murah senyum sekali masih kenal
ingatanku, siapa nama-nama orang tersebut
Biasanya, dari sekian banyak orang yang lewat di jalan desa tersebut, ada
beberapa yang tidak hanya sendiri melainkan bisa saja segrombolan ternak entah
itu milih siapa lewat. Hewan-hewan tersebut sunguh mungkin sudah hapal jalan
menuju rumah singgah ketika malam akan tiba. Jalan itu memang khusus dilalui
dengan jalan kaki ataupun kendaraan roda dua entah itu sepeda onthel maupun
sepeda yang bermesin, ada pula gerobak sapi yang biasa hilir mudik melewati
jalan desa itu. Memang jalan itu sangat tidak pas untuk dilalui kendaraan yang
besar seperti mobil.
Gemuruh kentongan dari masjid telah terdengar, tak lama lagi adzan
berkumandang, yang menandakan saat salat maghrib tiba. Sesegera mungkin
bergegas pulang. Sesampainya di rumah, mandi menjadi kegitan selanjutnya itupun
bisa langsung mandi jika kamar mandi sedang tidak digunakan oleh salah satu
manusia di keluargaku. Sesudah mandi trus shalat maghrib diringi lantunan hujan
yang mulai turun di atas seng rumahku.
Turunnya hujan dengan sangat deras membuatku sejenak duduk di masjid
sambil ditemani orang-orang yang sedang menatap hujan, dengan beberapa tatapan
berbagai versi. Anak-anak muda seperti halnya kaum muda pada saat itu,
mengobrol merupakan kegiatan nyaman di saat keadaan seperti ini. Dari beberapa
jangkah terlihat Marno bertanya kepada segerombolan anak-anak
Marno: malam tahun baru mau kemana ni…
Bayu: nyumet mercon wae….
Agus: iy tu…asikkkkk
Marno: kalo hujan begini jadi tidak asik main petasan..
Bayu: trus harus gimana…
Dari kejauhan tampak Buyung segera bergegas ikut rombongan ngobrol
tersebut
Buyung: bagaimana kalo kita ke Tugu jogja saja….
Bayu: Bagus tu idemu…eits tapi macet tu..
Buyung: itu mah urusan gampang…
Bayu: lha gmana solusinya
Buyung: kita jalan kaki aja, khan cepat sampai dan ngan kena macet
Marno: bisa itu idenya, lagi pula menikmati malam dengan jalan kaki
sepertinya lebih asik lho
Agus: aku ngikut aja dehhhhhh
Tak terasa obrolan mereka telah ditinggal pergi satu persatu orang-orang
yang sedang menunggu di masjid. Dengan kesepakatan bersama, kami akhirnya
pulang ke rumah masig-masing untuk beristirahat, mengingat sudah hampir jam
Sembilan malam.
Sesampainya di rumah, aku pun seperti biasa. Cuci kaki terlebih dahulu
setelah terkena kotoran air hujan yang mambasahi kaki bagian bawahku, dan tak
terasa, perut ini terasa bergoyang meminta isi bahan bakar, menginggat waktu
sore aku belum makan, aku bergegas menuju dapur untuk makan, dengan makan dan
minum seadanya, aku pun makan nasi, sayur asam, dan lauk telor asin. Minuman
pun juga seadanya yaitu air putih.
Rasa kenyang pun terasa sangat di perutku, hingga membuatku mengantuk.
Detak jam terus berjalan hingga tak sadar telah menunjuk jam setengah sebelas
malam, memang sudah saatnya tidur. Tidur dengan ditemani televisi yang masih
menyala. Seperti biasa kadang susah tidur jika tidak ada ditemani televisi.
Pagi hari aku bangun seperti biasa, jam 5 pagi, trus
shalat subuh dan bergegas menuju mimbar ilmu, ya itulah sekolah. Di sekolah aku
bertemu dengan teman-temanku, seperti biasa mengobrol ini itu yang akhirnya
berujung pada petanyaan. Malam tahun baru mau kemana?? Dengan percaya diri dan
yakin seyakin-yakinya, aku jawab, aku sudah ada acara dengan teman kampungku.
Sontak jawaban terdengar dari sampingku,,em…”tak kira belum ada acara,
mau tak ajak main PS ne….” kata Andi. “ya mau gi mana lagi, teman-teman desaku
untuk pada janjian mau ke tugu jogja menikmati malam ganti tahun ni” kataku.
Tak lama dari obrolan tersebut, terdengar pula teman-teman perempuan yang
dengan lebay sekaligus ikut obrolan, menggunakan gaya masing-masing dalam
berbicara. “aku mau ngajak kalian ni semua” kata Puput. “kemana” sontak kata
itu terucap hampir semua laki-laki yang ada di situ, baik itu dalam mulut
mereka mungkin hati merekapun juga sama. “ke rumahku lah, daripada ke luar menghabiskan
uang, lebih baik ke rumah melihat film” kata puput dengan muka yang manis. “boleh
tu” sahut Andi dengan mengagguk kepalanya ke bawah. Beberapa teman yang awalnya
tak ikut mengobrol akhirnya ikut merapat, bak rapat penting seperti rapat di
DPR.
Entah ada apa saat itu, mereka semua menolak tawaran puput itu, kaum adam
tersebut lebih memilih main PS daripada harus nonton film yang belum tentu
mereka senangi. Dengan main PS keseruan akan lebih hidup dan lebih seruuuu. Tak
terasa bel sekolah masuk sudah terdengar jelas di pojok dekat kantor kepala
sekolah. Detik demi detik sampai berganti menit dan akhirnya berakhirlah jam
sekolah. Pulang semua warga sekolah tersebut
Seperti biasa, pulang sekolah tidak langsung pulang, biasanya bertemu
dengan teman dan mengobrol santai di teras sekolah sambil melihat orang tua
mencari anaknya untuk pulang. Ya pembicaraan istirahat tadi masih dilanjut
sampai saat ini, mereka yang akan main PS pun masih tetap bersemangat.
Matahari sudah mulai meninggalkan cahaya terangnya, digantikan dengan
malam yang diiringi dengan suara burung-burung liar entah itu burung gereja,
sriti, maupun merpati seperti berhamburan ingin kemabali kesarangnya. Melihat
jam di dinding, sepert melihat sebuah lorong waktu yang tidak pernah bisa kita
kembali lagi ke masa lalu 11 bulan, perjalanan yang lama tersebut sudah menjadi
sejarah tiap manusia. Kesempatan yang diberikan tuhan untuk menggunakan waktu
sebaik-baiknya mungkin tidak sepenuhnya digunakan dan tak terasa malam ini
merupakan malam terakhir di tahun ini, yang itu artinya esok hari sudah
berganti tahun.
Sejuknya udara petang ini semakin membuat nuansa malam tahun baru menjadi
lebih nyaman. Capek beraktivitas seharian seperti terasa hilang setelah
mendengar suara-suara terompet dan petasan yang mulai dibunyikan. Sorak gembira
akan mencapai puncaknya tepat pukul 24.00 di seantero jagad bumi ini.
Agenda dengan teman kampung menjadi agenda yang ku tunggu-tunggu, satu
demi satu mereka datang dan berkumpul tepat di pinggir jalan raya. Aku, Buyung,
Bayu, Marno tak terasa sudah berkumpul. Tanpa berpikir panjang, jam mununjuk pukul
setengah delapan, kami pun bergegas berjalan kaki menuju pusat kota, jarak
tempat kami dengan pusat kota ya mungkin bisa delapan sampai sepuluh kilometer.
Jarak yang mungkin lumayan jauh, tapi demi tahun baru yang jika kami pakai
kendaraan akan sangat susah untuk bergerak, itu pun belum lagi untuk parkir
kendaraan mengingat pengalaman tahun-tahun lalu. Jalan kaki memang jadi pilihan
tepat karena selain murah juga bisa menikmati jalan-jalan yang sangat ramai dan
tentunya kami tidak ikut membuat macet jalan.
Setapak demi setapak, banyak hal dapat dilihat dari pinggiran jalan raya,
banyak penjual aneka terompet hingga makanan ringan seperti jagung bakar, wedang ronde, dan roti bakar khas
bandung ikut meramaikan suasana. Dari semua pedagang itu dapat kita amati
kesamaan diantara mereka yaitu masalah harga. Harga pun sedikit dinaikkan dari
hari biasa, seperti jagung bakar yang pada hari biasa harganya sekitar 3000
rupiah, sekang menjadi 5000 rupiah. Memang tahun baru menjadi tahun
keberutungan bagi para pengais rejeki jalanan, mudah-mudahan tidak turun hujan.
Sedikit demi sedikit perjalanan kami menuju pusat kota sudah terlihat
sampai, ribuan orang sudah menyesaki jalanan. Bahkan motor atau mobil pun tidak
bisa berjalan, mereka hanya sesekali dengan sedikit gas dapat berjalan dan
mungkin mereka harus lebih sangat bersabar mengingat kesemrawutan jalan akibat
banyaknya kendaraan roda dua berhenti di pinggiran jalan. Hal itu memang
menjadi biang masalah dari kemacetan, tak pelak polisi pun sangat sibuk untuk
mengurus urusan seperti ini. Berkali-kali pluit polisi entah itu dari satuan
sabhara maupun polantas ataupun provos sibuk mengatur jalanan yang kebanyakan
didominasi kaum muda.
Jalan kaki menjadi lebih cepat dan ramah lingkungan, mengingat tidak akan
ikut menyumbang kemacetan lalu lintas, andai saja jauh-jauh hari urusan lalu
lintas diantisipasi, mungkin tidak akan macet parah seperti ini. Alangkah miris
apabila kendaraan darurat seperti ambulance
maupun mobil pemadam kebakaran dibuat harus terkena macet. Padahal kendaraan
itu sangat penting untuk menjaga keselamatan umat manusia ketika terkena
bencana.
Tiba sampailah di Tugu Jogja, perlu diketahui bahwa tugu ini sangat kental
dengan nuansa sejarah, sampai-sampai banyak orang entah itu anak muda maupun
orang tua sekalipun sibuk mengambil foto mereka dengan latar belakang tugu
Jogja. Aku dan temanku pun sembari melihat-lihat keramaian dan mendengar suara
terompet menggema di setiap sudut pusat kota ini. Tak dirasa ternyata jam sudah
mununjuk angka sebelas malam lebih lima belas menit, itu artinya tidak lama
lagi gaung besar pergantian tahun akan semakin ramai, dan itu juga pertanda
bahwa perjalanan kami ternyata cukup lama juga untuk sampai pusat kota.
Malam semakin larut, kami pun
bergegas mencari tempat untuk sekadar menikmati malam tahun baru ini, alhasil
hampir semua sudut sudah dipenuhi ribuan manusia, ya akhinya dapatlah tempat
tepat di pinggir jalan depan sebuah hotel di daerah tersebut.
Segerombolan pemuda pemudi malah sering bikin bosan melihatnya, antara
satu dengan lainnya sangat menganggu pemandangan malam, gemuruh terompet dan
petasan seolah tetap terdengar sangat jelas. Hingga pada suatu ketika ada
seseorang yang sibuk mencari orang untuk sekedar berfoto bersama. Satu persatu
manusia dikumpulkan menjadi satu barisan bak sepeti pemain bola yang akan
difoto, baik kalangan anak muda maupun militer pun ikut serta dapat barisan
tersebut, tak kurang dari duapuluhan orang ikut baris tersebut. Setelah baris
dirasa cukup, sesi pengambilan di mulai, beberapa kali jepretan di ambil entah
di dari kamera siapa saja.
Setelah melihat keramaian malam pergantian tahun baru, sampailah harus
bergegas pulang, tentunya dengan berjalan kaki. Mengingat jam satu pagi pasti
belum ada kendaraan umum yang beroperasi, mungkin itu hanya taksi tapi mahal,
lebih baik jalan kaki. Ya lebih sehat dan tentunya murah. Seharian ini harus
dilalui dengan jalan kurang lebih 20 km harus berjalan kaki. Sungguh rasa cepek
yang tiada tara.
Pada tanggal satu Januari merupakan hari libur nasional, entah ada apa di
pikiranku seolah ada seseuatu hal yang menganjal hingga akhirnya hari itu hanya
diisi dengan tidur hampir seharian. Bangun sudah melihat matahari menjelang
petang.
Tepat tanggal dua Januari, salah satu temanku, Bayu menghampiriku di
rumah, ia membawa kabar baik untukku. “hey,,,ada kabar baik ini” kata Bayu.
“kabar baik apa” sahut aku., “coba cek koran Bernas hari ini” kata Bayu,
“memang ada apa” kataku,
“kita masuk Koran lo…” kata Bayu
“kok bisa, “ kataku,
“kemarin ternyata ketika kita berfoto bersama, itu merupakan seorang
wartawan yang mengambil gambar kita” kata Bayu
“iya po, di halaman berapa” kataku lagi
“halaman satu broooo,,,besar lagi fotonya” Kata Bayu dengan penuh
semangat
Lalu aku bergegas mencari uang recehan yang mungkin masih tersisa di atas
kulkas rumahku, ku hitung hingga dirasa cukup untuk membeli sebuah Koran yang konon
ada fotoku tersebut. Setelah aku sampai di tempat penjualan Koran, aku sangat
terkejut melihat foto tersebut di halaman depan dengan foto yang teramat besar.
Ini merupakan pengalaman luar biasa bisa masuk koran di halaman satu
menjadi berita utama, meskipun hanya foto, tapi pengalaman masuk koran tersebut
tidak akan menjadi foto tanpa sejarah, melainkan akan menjadi sejarah dalam
hidupku.